Jumat, 26 November 2010

Tindakan Dasar Penyelamatan dan Pelestarian Orangutan Sumatera



Tindakan Dasar Penyelamatan dan Pelestarian Orangutan Sumatera


Orangutan atau dikenal juga dengan nama mawas adalah sejenis kera besar yang memiliki lengan yang panjang dan kuat dengan warna bulu kemerahan, terkadang cokelat serta tidak memiliki ekor. kera besar ini merupakan salah satu hewan langka di dunia karena  hanya terdapat di Indonesia (90 % dari jumlah seluruhnya) dan Malaysia (10 %) dengan habitatnya berada di hutan hujan tropis.
Di Indonesia terdapat dua jenis orangutan, yaitu orangutan yang hidup di hutan Kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus) dan orangutan yang hidup di hutan sumatera (Pongo abelii). Pada keduanya terdapat sedikit perbedaan,  yakni orangutan yang terdapat di hutan sumatera badannya sedikit lebih kecil dari orangutan Kalimantan, wajahnya lebih sedikit lonjong dan hidupnya lebih sosial dibandingkan orangutan Kalimantan yang hidupnya lebih soliter.
Pada era-90an diperkirakan jumlah orangutan di Indonesia sekitar 200.000 ekor, namun dalam satu dekade terakhir populasinya mengalami penurunannya yang sangat drastis. Kini diperkirakan jumlah orangutan kalimantan sekitar 12.000 ekor dan orangutan sumatera lebih parah lagi, yaitu sekitar 6.650 ekor. Keadaan ini sungguh sangat memprihatinkan. Hal ini disebabkan karena tangan-tangan jahil manusia yang membinasakan habitat mereka dan tingginya kasus pembunuhan dan penjualan orang utan. Apabila hal ini tidak dicegah, dapat diprediksikan orang utan akan mengalami kepunahan pada satu dekade mendatang.
Di indonesia Orangutan Sumatera (Pongo abelii) hanya menempati wilayah sekitar hutan Nanggroe Aceh Darussalam sampai sumatera utara, tepatnya di daerah Taman Nasional Gunung Leuser, mulai dari timang gajah, aceh tengah sampai sitinjak di tapanuli selatan. Selain itu sebagian kecil populasi juga terdapat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru Sumatera Utara.
Dari data terakhir yang dimiliki oleh ANTARA SUMUT, populasi Orangutan Sumatra diperkirakan hanya tinggal 6.624 individu dan termasuk salah satu spesies yang sangat terancam punah.
Untuk menghentikan terus terjadinya penurunan jumlah populasi orangutan di hutan sumatera maka perlu adanya tindakan nyata dari pemerintah dan masyarakat.
Beberapa tindakan yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan primo animale Indonesia ini adalah :

1.    Penyelamatan Habitat Orangutan
Degradasi kawasan berhutan di sumatera selain berdampak kepada terganggunya daur siklus tata air, oksigen, dan iklim mikro, juga berdampak kepada terputusnya daerah jelajah banyak satwa seperti orangutan. Dewasa ini kerusakan hutan di tanah air mencapai 2,7-2,8 juta hektar dari luas hutan Indonesia, seperti di Sumatera Utara terdapat 894.146 ha kawasan hutan yang rusak berat dari total luas 3.742.120 ha.Kondisi itu ditandai dengan dijumpai sejumlah kasus Orangutan yang terisolasi di ladang penduduk atau di luar wilayah konservasi baik di Nanggroe Aceh Darussalam maupun Sumatera Utara, sehingga ancaman perburuan terhadap satwa yang dilindungi ini menjadi semakin besar. Dari sini dapat disimpulkan bahwa penurunan jumlah orang utan berbanding lurus dengan kerusakan hutan.
Oleh sebab itu sebagai langkah awal dalam penyelamatan Orangutan Sumatera dari kepunahan adalah dengan cara menyelamatkan habitatnya terlebih dahulu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara penghentian pembukaan hutan untuk lahan perkebunan sawit, berperang melawan illegal logging, reboisasi dan menggalakkan gerakan tanam seribu pohon.
Mustahil kita melestarikan orangutan tanpa melestarikan habitatnya, karena orangutan adalah satwa liar yang lebih suka hidup di alam bebas dari pada di penangkaran atau di kebun binatang. Penelitian membuktikan orangutan yang tinggal di penangkaran dan karantina umurnya lebih pendek dari orang utan yang hidup di alam bebas. Jadi, rehabilitasi habitat orangutan adalah harga mutlak dalam usaha pelestarian Orangutan Sumatera ini.
 

2.    Memberikan Seruan Terhadap Masyarakat
Di indonesia tingkat pembunuhan dan penjualan orangutan terbilang cukup tinggi karena pada umumnya masyarakat tersebut tidak mengetahui atau tidak menganggap orangutan sebagai  salah satu satwa kebanggaan negeri kita. Dan masyarakat yang sadar akan pentingnya menjaga kelestarian orang utan masih sangat sedikit.
Untuk itu kita herus menggalakkan kampanye orangutan di berbagai daerah di sumatera, baik di perkotaan maupun dipedesaan. Misalnya mengadakan seminar tentang orangutan, sosialisasi, memberikan pendidikan langsung tentang konservasi terhadap masyarakat khususnya di Sumatera, penyebaran poster-poster dan slogan tentang penyelamatan Orang utan Sumatera dari kepunahan, memberikan seruan agar tidak membuka lahan perkebunan di kawasan konservasi, dan lain-lain. Dengan adanya kegiatan seperti ini masyarakat mendapatkan informasi tentang orang utan dan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk ikut melestarikan orang utan tersebut.
 
3.    Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Orangutan Sumatera
Disamping  memperbaiki habitat Orangutan Sumatera dan menumbuhkan kesadaran pada masyarakat, kita juga harus melakukan penelitian terhadap orangutan, seperti cara pengobatan, tingkah laku dan kebiasaan sehari-hari orangutan seperti perilaku makan, tidur, grooming, kawin, perilaku maternal dan banyak lagi. Hal ini penting agar kita tidak salah dalam mengambilkan tindakan dalam penangkaran dan konservasi. Selain itu untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas Orangutan Sumatera juga dapat dilakukan dengan penangkaran dan rehabilitasi.

4.    Meningkatkan Hubungan Antara LSM Dengan LSM Terkait, Pemerintah, Dan Masyarakat
Pelestarian orangutan sumatera tidak mungkin hanya dilakukan oleh pemerintah, atau LSM tertentu saja, tetapi harus ada dukungan dari semua pihak, termasuk dukungan dari masyarakat Internasional. Contohya dalam menyelamatkan habitat orangutan, departeman kehutanan harus bekerja sama dengan LSM lingkungan hidup, kepolisisan, dan masyarakat sekitar, karena sangat sulit jika mereka bekerja secara individu dan rintangannya pasti akan lebih ringan apabila dilakukan dengan bekerjasama.
Pemerintah dan LSM yang bergelut dalam ruang lingkup Orangutan Sumatera harus bekerja sama dan menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar, seperti memberikan pendidikan atau pelatihan keterampilan kepada masyarakat, agar masyarakat tersebut dapat mencukupi kebutuhan ekonominya, sebab pada umumnya masyarakat yang melakukan penangkapan, dan penjualan orang utan serta perambahan hutan di daerah konservasi dimotivasi oleh faktor ekonomi, mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan ekonominya sehingga terpaksa melakukan kegiatan terlarang ini.
Apabila tindakan-tindakan ini dapat berjalan dengan baik dan terciptanya hubungan yang harmonis antara pemerintah dengan masyarakat, maka harapan pelestarian Orangutan sumatera semakin terbuka lebar.
Seperti yang dikatakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, orang utan adalah simbol dari hutan tropis, dengan menyelamatkan orang utan maka kita telah menyelamatkan hutan tropis yang mencegah emisi karbon.


Referensi
http://www.antarasumut.com/berita-sumut/lingkungan/orangutan-sumatera-terancam-punah/.
http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_utan.

Kamis, 25 November 2010

Menilisik Latar Belakang Penelitian E. sakazakii pada Susu Formula

Menilisik Latar Belakang Penelitian E. sakazakii pada Susu Formula

Polemik susu formula bayi yang belakangan ini muncul ke permukaan mau tidak mau turut mencuatkan nama
DR. drh. Sri Estuningsih, M.Si yang tidak lain adalah salah satu peneliti IPB yang melakukan penelitian tersebut.
Medicastore berkesempatan mewawancarai DR. Estu, sapaan akrabnya. Tujuannya tak lain untuk menggali lebih dalam tentang bakteri Enterobacter sakazakii (E. sakazakii) yang dituding telah mengkontaminasi susu formula dan makanan bayi di Indonesia.
Ditemui di ruang kerjanya di Laboratorium Patologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB, siang itu DR. Estu terlihat segar dan bersemangat dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Berikut petikan wawancara dengan beliau.
Apa latar belakang dilakukannya penelitian terhadap susu formula dan makanan bayi ini?
Bagaimana kriteria susu formula yang digunakan sebagai sampel?
Siapa saja anggota penelitian ini?
Apa yang diharapkan dari hasil penelitian ini?
Hal apa yang berbahaya dari E. sakazakii?
Mengapa susu formula yang lebih beresiko?
Perlukah E. sakazakii dimasukkan dalam batas maksimum cemaran mikroba dalam produk susu?
Ada pesan tertentu untuk produsen susu dan makanan bayi?


 Apa latar belakang dilakukannya penelitian terhadap susu formula dan makanan bayi ini?  
Awalnya saya tidak mencari mengenai E. sakazakii karena di Indonesia belum ada kasus. Saya lebih menyoroti Salmonella, Shigella, dan E. coli karena ada kejadian diare pada bayi, walaupun tidak mewabah. Ketika bayi diare dikatakan susu atau makanannya tidak cocok, saya pikir ada hubungannya dengan produk yang dikonsumsi. Produk yang berkaitan dengan bayi hanya ada dua, susu formula dan follow-on formula. Jadi mungkin ada relevansi antara kontrol higiene dengan produk tersebut.
Saya melakukan penelitian awal di Jerman karena laboratoriumnya terakreditasi dan Jerman ditunjuk oleh WHO (Badan Kesehatan Dunia) sebagai koordinator pengawasan mutu makanan dan susu bayi. Tahun 2003, Salmonella dan Shigella hasilnya negatif. Tapi ditemukan E. sakazakii sebanyak 13,5% (10 dari 74 sampel). Ternyata E. sakazakii berpotensi membuat enteritis, sepsis, dan meningitis. Ini hal serius. Saya jadi berpikir, bagaimana kalau ini ada di susu formula bayi. Tahun 2004, setelah diteliti 46 merek, ada tiga merek yang terkontaminasi.
Tahun 2006 hasilnya cenderung lebih tinggi 22,73% pada susu formula dan 40% pada makanan bayi. Saya mengambil inisiatif. Ini harus dibicarakan. Tahun 2006 saya informasikan hasil penelitian tersebut ke BPOM. Saya jelaskan metode yang saya gunakan, mungkin cocok dengan yang biasa BPOM gunakan.
 Bagaimana kriteria susu formula yang digunakan sebagai sampel?  
Susu formula yang diteliti hanya untuk bayi berusia 0-6 bulan. Sementara seluruh sampel berasal dari produk lokal. Waktu itu yang ada dalam pikiran saya, saya membeli susu di supermarket yang paling banyak dan sampai ke pelosok, sehingga diharapkan sampel yang serupa terdistribusi ke seluruh Indonesia.
 Siapa saja anggota penelitian ini?  
Tahun 2003 dan 2004 saya meneliti bersama teman-teman di Jerman. Tapi karena ada keharusan di IPB tidak boleh melakukan penelitian sendiri, maka tahun 2006 tim kami terdiri dari saya, Dr. I. Wayan T. Wibawan (sekarang Dekan FKH IPB), dan Dr. Rochman Naim yang sekarang hijrah ke Malaysia. Tahun 2007 saya dengan Dr. Wayan dan Drh. Hernomoadi Huminto, MVS.
 Apa yang diharapkan dari hasil penelitian ini?  
Dari awal saya berharap BPOM dapat memanfaatkan hasil penelitian ini. Meskipun jika ditinjau dari segi survei belum memadai, tapi ini merupakan inisiasi bagi BPOM untuk melakukan survei kewenangan sesuai tugas dan fungsinya.
Mungkin ini hanya masalah prioritas. Bisa saja di BPOM ini belum menjadi prioritas. Tapi bagi kami para peneliti, ini mempunyai arti yang cukup dalam. Misalnya seseorang terinfeksi, akibatnya bisa fatal atau cacat, kita tidak tahu kondisinya seperti apa. Semua belum terbuka, sehingga perlu terus dilakukan penelitian.
 Hal apa yang berbahaya dari E. sakazakii?  
E. sakazakii pada lingkungan biasa tidak patogen. Namun yang perlu dipelajari adalah mengapa jika E. sakazakii sudah berada di dalam susu formula, E. sakazakii mampu menjadi patogen. Sifatnya oportunistik. Dalam keadaan optimal, E. sakazakii bisa tumbuh mencapai fase eksponensial, membelah jadi banyak sekali dari 10 sampai jutaan. Kemudian E. sakazakii menghasilkan faktor virulen enterotoksin, sehingga dapat melakukan adhesi (menempel) ke sel epitel, dapat memasuki dan menembus pembuluh darah, kemudian menyebabkan peradangan. Hasilnya, dapat menyebabkan enteritis, sepsis, dan meningitis.
Tapi enterotoksin tidak dihasilkan di dalam susu formula. Jika sudah diminum, sudah adhesi, baru di situlah bakteri mulai keluar. Yang berbahaya jika badan bakteri masuk, kemudian hidup dan berbiak, ini yang bisa membuat sakit. Karenanya langkah yang paling penting dalam menghambat kontaminasi adalah membuat susu dengan air bersuhu 70 °C sehingga kalaupun ada badan bakteri, akan mati.
 Mengapa susu formula yang lebih beresiko?  
Begini, dalam proses pembuatan susu formula, setelah di pasteurisasi, dilakukan spray drying dengan mengalirkan udara panas agar susu yang tadinya berbentuk cair menjadi bubuk. Namun saat dilakukan fortifikasi (penambahan nutrisi lainnya) dimasukkan beberapa bahan yang mungkin tidak boleh terkena panas lagi. Jadi, kemungkinan di sinilah resikonya. Belum lagi jika ada pori-pori di alat yang tidak tercuci. Satu hal lagi, begitu terkena kontak dengan permukaan kasar, E. sakazakii akan membuat semacam biofilm (seperti selimut), sehingga agak sulit untuk dilakukan desinfeksi.
Saya yakin industri telah melaksanakan cGMP (current Good Manufacturing Practice). Tapi hendaknya dimonitor, sehingga jika ada kekurangan, masih ada kemungkinan untuk diperbaiki. Saya belum tahu bagian mana dari proses di industri yang rentan terkontaminasi E. sakazakii karena saya belum ada kesempatan untuk mengambil sampel dari setiap critical point. Umumnya industri memiliki data tercatat mulai dari raw material, pasca pasteurisasi, spray drying, blending (pencampuran), finishing, sampai sesudah dipasarkan.
Namun ada baiknya dilakukan audit internal dan eksternal. Audit internal dilakukan oleh bagian QC (Quality Control/Pengawasan Mutu) dari industri, sementara untuk audit eksternal ada baiknya meminta badan atau institusi yang dianggap kompeten untuk mengaudit. Salah satunya adalah BPOM, karena memang sudah tugasnya.
 Perlukah E. sakazakii dimasukkan dalam batas maksimum cemaran mikroba dalam produk susu? 
Pertanyaan ini sedang didiskusikan terus. Saat ini E. sakazakii baru sampai draf ke-4 (dalam konferensi kerangka acuan standar pangan dunia, Codex Alimentarius Commission, WHO-red) , finalnya sampai draf ke-8, jadi masih perlu waktu empat tahun lagi.
 Ada pesan tertentu untuk produsen susu dan makanan bayi?  
Saya kira sebisa mungkin mentaati apa yang sudah digariskan oleh peraturan (standar-red) yang mengikat di bidang mereka. Audit internal penting dilaksanakan. Kalau bisa audit eksternal juga dilakukan, baik oleh BPOM atau institusi lain (secara berkala-red).

Rabies di Dunia

Rabies di Dunia

NEMATODA (CACING GELANG/GILIK)

NEMATODA
(CACING GELANG/GILIK)
I.    Tinjauan Pustaka

Kelas nematoda terdiri dari beberapa spesies tidak hanya bersifat parasitik terhadap manusia, namun juga terhadap binatang, tumbuhan baik yang diusahakan maupun liar. Nematoda merupakan organisme yang mempunyai struktur sederhana. Nematoda dewasa tersusun oleh ribuan sel-sel somatik, ratusan sel diantaranya membentuk sistem reproduksi.  Tubuh nematoda berupa tabung yang disebut sebagai pseudocoelomate. (anonimus, 2008).
Nematoda merupakan anggota dari filum nemathelminthes. Mereka mempunyai saluran usus dan rongga badan, tetapi rongga badan tersebut dilapisi oleh selaput seluler sehingga disebut pseudosel atau pseudoseloma. Nematoda berbentuk bulat pada potongan melintang, tidak bersegmen, dan ditutupi oleh kutikula yang disekresi oleh lapisan sel langsung di bawahnya, hipodermis. (Levine, 1977).
Nematoda adalah cacing yang umumnya berbentuk bulat (silindris) memanjang dari anterior ke posterior dan pada anterior terdapat mulut. Tubuhnya ditutupi oleh selapis kutikula yang tidak berwarna dan hampir transparan. Kutikula dihasilkan oleh hipodermis yang berada dibawahnya. (Yudha, 2009).
Biasanya sistem pencernaan, ekskresi, dan reproduksi terpisah. Pada umumnya cacing bertelur, tetapi ada juga yang vivipar dan yang berkembang biak secara partenogenesis. Cacing dewasa tidak bertambah banyak didalam badan manusia. Seekor cacing betina dapat mengeluarkan telur atau larva sebanyak 20 sampai 200.000 butir sehari. Telur atau larva ini dikeluarkan dari badan hospes dengan tinja. Larva biasanya mengalami pertumbuhan dengan pergantian kulit. Bentuk infektif dapat memasuki badan manusia dengan berbagai cara; ada yang masuk secara aktif, ada pula yang tertelan atau dimasukkan oleh vektor melalui gigitan. Hampir semua nematoda mempunyai daur hidup yang telah diketahui dengan pasti. (gandahusada,1998).
Model pengendalian siklus infeksi toxocariasis pedet dapat dilakukan dengan minyak atsiri rimpang temuireng (Curcuma aeruginosa RoxB). Peluang penularan trypanosomiasis dapat terjadi jika terdapat reservoir, yaitu sapi yang terinfeksi. Mekanisme penularan dipengaruhi oleh kemampuan terbang vektor, kemampuan menyebar, serta daya tahan hidup T.evansi pada vektor. "Lama hidup pada habitat probosis vektor maksimal 4 jam. Sedangkan pada habitat fore gut maksimal 9 jam (Setiawan Koesdarto, 2007).
A.    Taksonomi
Taksonomi dari cacing namatoda adalah:
Filum     : Nemathelminthes
Kelas    : Nematoda
Ordo     : Strongylorida, rhabditorida, ascaridorida, spirurorida, camallanorida,
      dorylaimorida, dioctophymatorida
Famili    : Trichostrongylidae,rhabditidae, cephalobidae, strongyloididae,
ancylostomatidae, strongylidae, syngamidae, metastrongilidae,
ascarididae,     
filariidae, dll
Genus    : Trichostrongylus, strongyloides, ancylostoma, necator, strongylus,
  haemonchus,dipetalonema, dirofilaria, dll
Spesies: Trichostrongylus axei, Strongyloides papillosus, Ancylostoma caninum,
Necator americanus, Strongylus equinus, Haemonchus contortus, 
Dipetalonema reconditum, Dirofilaria immitis, dll
     

B.    Morfologi
§    Bentuk tubuhnya bulat (silindris) memanjang dari anterior ke posterior,  tidak bersegmen dan meruncing pada kedua ujungnya.
§    Permukaan tubuhnya dilapisi oleh kutikula yang dihasilkan langsung oleh hipodermis yang berada dibawahnya.
§    Organ – organ internalnya berbentuk filamen dan tergantung dalam rongga tubuh cacing yang berisi cairan.
§    Sistem pencernaannya berupa tabung lurus panjang dengan sebuah mulut yang dikelilingi oleh 6 bibir dan anus dibagian posterior.
§    Sistem syaraf terdiri dari cincin syaraf yang mengelilingi istmus esofagus dan tersusun dari sejumlah ganglia dan syaraf.
§    Sistem reproduksi betina terdiri dari ovarium, oviduct, dan uterus yang berakhir pada vagina pendek dan berujung di vulva yang terletak di daerah 1/3 bagian anterior tubuh.
§    Sistem reproduksi jantan terdiri dari sebuah testis dan vas deferens yang berakhir di duktus ejakulator di kloaka.
§    Pada cacing jantan terdapat spikula yang homolog dengan penis dan bursa kopulatriks yang berfungsi untuk memegang betina ketika perkawinan.


II.    Gambar dan Keterangan



III.    Pembahasan
A.    Epidemiologi
Ada dua fenomena yang mempengaruhi siklus hidup normal nematoda yang mempunyai arti penting secara biologi dan epidemiologi:
1.    Hypobiosis : suatu fenomena berhentinya pertumbuhan cacing nematoda pada titik tertentu dari perkembangannya sebagai parasit. Umumnya terjadi pada saat cuaca dilingkungan tidak mendukung untuk kelangsungan hidup cacing di luar tubuh induk semang. Pada daerah dingin terjadi pada musim dingin sedangkan pada daerah tropis terjadi pada musim panas yang lama. Pada sebagian besar jenis cacing, hipobiosis terjadi pada tingkat L4.
2.    periparturient rise, spring rise (penigkatan jumlah telur dalam feses). Menigkatnya jumlah telur dalam feses induk semang disekitar waktu kelahiran. Terutama pada domba, kambing, dan babi. Penyebabnya adalah turunnya tingkat kekebalan induk semang yang berhubungan dengan berubahnya kadar hormon laktogenik, prolaktin. Turunnya  tingkat immunitas spesifik terhadap parasit karena meninnginya kadar prolaktin ( karena melahirkan ). Kejadian ini akan normal kembali bila kadar prolaktin turun ke normal setelah hewan berhenti menyusui. Akibat dari kejadian ini adalahkerugian pada hewan yang berlaktasi, dan timbulnya penyakit klinis pada hewan – hewan muda.
B.    Siklus Hidup
Siklus hidup nematoda mengikuti pola standar terdiri dari telur, empat stadium larva, dan dewasa. Larvanya kadang – kadang disebut juvenil karena mereka mirip dengan cacing yang dewasa, yakni mereka berbentukcacing juga. Menyilih (ekdisis) terjadi setelah setiap stadium larva. Telur kadang – kadang menetas pada saat larva berkembang di dalamnya, dengan demikian stadium infektif mungkin telur atau mungkin larva, bergantung kepada jenis nematoda. Apabila stadium infektifnya adalah larva, biasanya larva tersebut disebut sebagai stadium ketiga (L3). Jika stadium infektif adalah telur, larva yang dikandung biasanya larva stadium kedua (L2). Siklus hidupnya dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung (memiliki induk semang perantara). Di dalam induk semang definitif larva tersebut berubah menjadi cacing dewasa dan menetap serta berkembang biak di dalam tubuh induk semang tersebut.
C.    Kunci Identifikasi
Nematoda dapat diidentifikasi dari cacing lainnya adalah berdasarkan bentuknya yang silindris, tidak bersegmen dan meruncing dikedua ujungnya. Pada bagian posterior dari kebanyakan cacing nematoda jantan terdapat spikulum bursa kopulatriks, sehingga perbedaan antara cacing jantan dan betina sangat jelas.


IV.    Daftar Pustaka

Levine, Norman D. 1977. Parasitologi Veteriner. Gadjah Mada University Press.
    Yogyakarta.
Gandahusada, Srisasi.dkk. 1998. Parasitologi Kedokteran . Fakultas Kedokteran
    Universitas Indonesia. Jakarta.
Koesdarto Setiawan, 2007, Penyakit Parasitik Pada Pengembangan Sapi Madura. Info
Vet, Jakarta Selatan.
Kamaruddin, Mufti.dkk.2009. Parasitologi Veteriner. Universitas Syiah Kuala. Banda
    Aceh.
http://id.wikipedia.org/wiki/Nematologi
http://www.google.com/nematoda/image

Rabu, 24 November 2010

TANYA JAWAB PARASITOLOGI

TANYA JAWAB PARASITOLOGI
1)Ada tiga batil isap, sebutkan bentuk dan contohnya!
    1.Alat isap yang berbentuk saluran (bothria, suctorial grooves), contohnya pada Diphylobothrium latum.
    2.Alat isap berbentuk cawan (sucking disk), misalnya pada Taenia saginata.
    3.Alat isap berbentuk cawan dengan rostellum yang dilengkapi dengan kait – kait chitine, misalnya pada Taenia solium.

2)Apakah fungsi dari :    
    1.Tegument
    Tegument berada di permukaan tubuh, berfungsi sebagai tempat penyerapan makanan dari luar dan sebagai pelindung tubuh.
    2.Respirasi
    Sistem respirasinya melalui difusi pada permukaan tubuh, berfungsi untuk pertukaran oksigen dan karbondioksida.

    3.Reproduksi
    Cestoda merupakan parasit yang bersifat hermaprodit, berfungsi untuk alat perkembangbiakan, alat kelamin jantan     terdiri dari testis yang banyak, vas efferens, vas deferens, dan sirus, sedangkan alat kelamin betina terdiri dari     ovarium, oviduct, reseptakulum seminalis, dan vagina. Kedua alat kelamin ini ada disetiap proglotid. Dan itu     sebabnya ada beberapa ilmuan yang mengatakan bahwa cacing pita ini adalah bentuk koloni.

No    Tipe dewasa    H. definitif    H. intermediet    Tipe larva    Rostellum (ada /tidak)
1.     Diphylobothrium latum    Anjing, kucing, rubah, beruang, karnivora lain, dan manusia    Cyclops, diaptomus, dan ikan – ikan air tawar (salmon)    Tipe solid    Tidak
2    Raillietina cesticillus    Ayam, burungkuau, dan jenis unggas lainnya    Kumbang tinja, kumbang tanah, kumbang hitam, kumbang tepung    Cycticercoid    Ada
3    Diphylidium caninum    Anjing, kucing, dan binatang buas    Pinjal (Ctenosephalides canis, C. felis, dan Pulex irritans)    Cysticercoid    Ada
4    Hymenolepis diminuta    Tikus (rats, mice)    Kutu tikus, kumbang, lipas, kupu – kupu    Cysticercoid    Ada
5    Taenia solium    Manusia    Babi    Cysticercus    Ada
6    Multiceps multiceps    Anjing, anjing hutan, srigala    Domba, sapi, kuda, kambing    Coenurus     Ada
7    Echinococus granulosus    Anjing, srigala, dan anjing hutan, serta carnivora lain.    Ungulata (domba, dapi, kambing)    Hydatida    Ada

4)    Klasifikasi cestoda
No    Ordo                Genus                       Spesies                           H. definitif                        H. intermediet
1    Diphyllideorida    Diphylobothrium    a. Diphylobothrium latum    Anjing, kucing, manusia    Cyclops, diaptomus, ikan air tawar (salmon)
                                                              b. Diphilobothrium mansoni    Anjing, kucing               Manusia
2    diphyllideorida    Spirometra             a. Spirometra mansoni       Anjing, kucing,     Copepoda, katak, ular, burung, dan bahkan mamalia
                                                              b. Spirometra mansonoides    Famili kucing, anjing,     Copepoda, amfibi, reptil.
3    Mesocestoidideorida Mesocestoida  a. Mesocestoides corti    Anjing, kucing, karnivora lain, serta manusia    Kumbang tahi, tungau oribatida, katak, dan reptil lain
4    Taeniideorida    Taeniarhyncus          a. Taeniarhyncus saginatus    Manusia    Sapi
5    Taeniideorida     Multiceps                a. Multiceps multiceps    Anjing, anjing hutan, sreigala, rubah    Domba, kambing, kuda, sapi
                                                              b. Multiceps serialis    Anjing, srigala, rubah    Kelinci, terwelu, coypus, tupai
6    Taeniideorida     Moniezia                 a. Moniezia expansa    Domba, sapi, dan ruminansia lain    Tungau rumput oribatida
                                                              b. Moniezia benedeni    Sapi, domba, dan ruminansia lain    Tungau rumput oribatida
7    Dipyliidideorida    Dihylidium            a. Dipylidium caninm    Anjing, kucing    Pinjal, dan kutu
            b. Dipylidium sexcoronatum    Kucing    Kutu
8    Davaineideorida     Davainea            a. davainea proglotina    Ayam, merpati, dan burung jenis lain    Siput

PENYAKIT NGOROK (SEPTIKEMIA EPIZOOTIKA )

PENYAKIT NGOROK (SEPTIKEMIA EPIZOOTIKA )

Sinonim : Septicemia Epizootika (SE), Septicemia Hemorrhagica, Hemorrhagic Septicemia, Barbone
    Septicemia merupakan bentuk khusus dari pasteurelosis, seperti halnya tifoid yang merupakan bentuk khusus dari salmonelosis. Septicemia merupakan penyakit terseifat pada kerbau, sapi, dan kadang-kadang pada spesies lainnya, misalnya babi, kijang, dan gajah. Pernah juga dilaporkan terjadi pada kuda. Penyebab penyakit SE di Asia adalah Pasteurella multocida serotype B:2, sedangkan di Afrika SE disebabkan oleh kuman P. multocida serotipe E:2.
Epidemiologi
    Penyakit SE terdapat di semua wilayah tropis dan subtropis. Kelanggengan infeksi di suatu daerah disebabkan oleh adanya hewan pembawa (carrier) yang jumlahnya bertambah besar tiap kali ada wabah. Jumlah hewan pembawa lama-kelamaan menyusut, terutama bila program vaksinasi dilaksanakan. Meskipun vaksinasi massal dilaksanakan teratur tiap tahun beberapa hewan pembawa akan tetap ada, hingga proses pemberantasan dengan vaksinasi ini dipandang tidak baik. Apabila kejadian SE klinis timbul, yang berasal dari infeksi dalam maupun luar, sejumlah besar kuman pasteurella akan dibebaskan ke tempat sekitarnya dan dapat hidup untuk waktu yang relative panjang, lebih kurang 1 minggu, yang kemudian dapat menulari hewan disekitar penderita yang sekelompok. Wabah terbesar dengan korban ratusan penderita telah terjadi pada kerbau dalam kelompok besar dalam wilayah yang airnya cukup terjamin. Diantara yang sembuh, infeksi subklinis adalah yang paling sering dijumpai serta diikuti dengan kekebalan alami yang mungkin sampai 50 % dari kelompok ternak. Kekebalan tersebut kemudian akan menurun sejalan dengan tingginya kadar antibody tersifat di dalam serum dan mungkin berlangsung selama lebih kurang 1 tahun. Kuman pasteurella tidak mampu tinggal lama di tanah atau di air.  De alwis, Gupta, dan peneliti lainnya menyatakan bahwa sapi dan kerbau merupakan hewan pembawa sendiri dan melanggengkan penyakit disuatu daerah. Kebanyakan wabah di Asia terjadi pada musim hujan meskipun kematian dapat terjadi disetiap data di sepanjang tahun.
Pathogenesis
    Infeksi berlangsung melalui saluran pencernaan dan pernafasan. Gerbang utama pemasukan pasteurella rupanya terletak di daerah tonsil. Pembengkakan daerah tekak merupakan gejala awal dari penyakit. Pada hewan-hewan yang sangat rentan, misalnya kerbau muda yang tidak kebal, septicemia akan segera terjadi dengan bakterimia pasif yang bersifat terminal. Meskipun beberapa protein yang berdifat toksik dalam jumlah kecil telah ditemukan dalam kuman pasteurela, eksotoksin yang konvensional tidak pernah berhasil ditunjukkan adanya. Gejala-gejala dan lesi bersifat konsisten dengan kejaan endotoksin yang ditemukan dalam jumlah banyak dan berbentuk lipopolisakarida. Pada hewan yang sepenuhnya rentan, kematian dapat terjadi dalam waktu 24 jam setelah terjadinya infeksi. Beberapa sapi asia asli memiliki ketahanan yang lebih tinggi, dan jalan penyakit pada sapi-sapi tersebut menjadi kurang cepat, dengan kematian terjadi setelah 3 atau 4 hari.
Gejala-gejala
    Kejadian penyakit di lapangan atau pun secara percobaan pada kerbau ditandai dengan kedunguan, salivsi, serta demam yang mencapai sekitar 40-410C. Pada waktu penyakit berkembang penderita terlihat berbaring, malas bergerak, serta mengalami kesukaran bernafas. Penyakit dengan bentuk tenggorokan yang umum, ditandai dengan busung yang meluas kedaerah leher bagian ventral sampai ke gelambir dan kadang-kadang juga satu atau dua kaki muka. Pada penderita yang sepenuhnya rentan, busung bersifat difus, dengan batas tepi yang meluas. Tekanan pembuluh darah balik menurun dan dalam keadaan terminal diikuti dengan shock endotoksin. Kuman pasteurela dapat diisolasi dari tinja, kemih, air susu, dan saliva sebelum selama hewan dalam keadaan sekarat. Dalam keadaan demikian penderita merupakan sumber penularan bagi hewan yang lain.
    Fibrinogen darah meningkat semejak gejala mulai tampak. Dalam percobaan infeksi terhadap hewan percobaan, adanya kuman di dalam darah (bakterimia), yang hanya dapat dikenal secara penanaman kuman, dan tidak secara mikrodkopik, terjadi dalam waktu 12 jam. Hewan yang sangat rentan, misalnya kerbau, biasanya mengalami kematian dalam waktu 24 jam setelah terjadinya infeksi.
Pemeriksaan patologi-anatomis
    Dalam seksi terlihat adanya busung pada glottis dan jaringan-jaringan perilaringeal maupun peritracheal. Perdarahan titik mungkin terlihat pada selaput lender organ-organ tubuh, sedangkan cairan busung tidak tercampur darah. Kelenjar limfe yang terdapat di dalam rongga dada dan perut Nampak mengalami bendungan. Bendungan yang bervariasi terdapat pada saluran pencernaan, mulai dari abomasum sampai usus besar. Diare berat berdarah dijumpai setelah injeksi lipopolisakarida kuman serotype B:2 yang dimurnikan. Mungkin zat tersebut yang bertanggung jawab atas terjadinya lesi dalam usus serta gejala-gejala pada kejadian lapangan. Selain dari perubahan-perubahan toksik dalam septicemia, hanya sedikit saja lesi yang khusus yang ditemukan pada organ-organ lain. Perdarahan yang timbul, meskipun nama penyakit adalah hemorrhagic septicemia, tidaklah begitu menonjol seperti misalnya pada keracunan tanaman bangsa paku-pakuan, bracken fern. Sapi biasanya menunjukkan perubahan patologik yang bervariasi, misalnya radang paru-paru. Hal tersebut terjadi karena umumnya sapi-sapi penderita dapat bertahan dari penyakit untuk waktu yang lebih lama.


Diagnosis
    Apabila busung tekak dijumpai, diagnosis segera dapat ditentukan berdasarkan gejala-gejala klinis. Kasus yang tidak disertai dengan pembengkakan daerah tekak dan leher mungkin terkacaukan dengan antraks, sampar sapi atau pasteurellosis yang disebabkan oleh kuman pasteurela serotype yang lain. Penderita hamper selalu mengalami kematian pada fase bakterimia. Pasteurela dapat ditemukan pada sediaan apus darah atau eksudat jaringan yang mengalami perubahan patologik, misalnya cairan busung, cairan perikard, dan sebagainya. Kuman dapat dilihat dengan jelas, dengang pewarnaan Romanowsky, sedangkan di laboratorium yang paling banyak digunakan adalah pewarnaan Leishman yang diencerkan.
    Kelinci merupakan hewan percobaan yang sangat peka terhadap kuman pasteurel meskipun jumlah yang disuntikkan hanya sedikit sekali. Mencit terbukti juga memiliki kepekaan yang serupa dan harganyapun jauh lebih murah, sedangkan marmot tidak begitu peka terhadap kuman tersebut. Itik dan ayam yang disuntikkan dengan kuman dari serotype B:2 tidak mengalami perubahan, kecuali apabila dosis suntikkannya sangat besar. Burung perkutut terbukti memiliki ketahanan yang tinggi terhadap infeksi buatan di laboratorium.
    Uji presipitasi secara agar gel double diffusion dan teknik fluoresen antibody telah digunakan dalam penentuan diagnosis. Galur kuman serotype B:2 dan E:2 merupakan biotipe tersendiri secara mofologik, sifat biakan maupun sifat-sifat biokimiawinya. Kedua serotype tersebut hanya dapat dibedakan secara uji serologik.
Terapi dan pengendalian
    Karena cepatnya jalan penyakit SE pengobatan yang memberikan hasil baik sukar diperoleh. Dalam percobaan sediaan sulfadimidine dan antibiotika berspektrum luas memiliki sifat kuratif, bila diberikan sedini mungkin dan dengan dosis yang penuh. Titik balik untuk pengobatan berada diantara 12-18 jam setelah terjadinya infeksi, di saat kuman dapat dibersihkan penderita tetap mengalami kematian. Antiserum yang digabung dengan obat-obatan masih mempunyai daya menyembuhkan, akan tetapi produksinya sekarang sudah sangat berkurang apabila dibandingkan dengan waktu-waktu yang lampau. Karena penyembuhan dengan cara yang efektif tidak memungkinkan, maka pencegahan dengan cara vaksinasi adalah cara yang terbaik untuk ditempuh.
    Untuk megetahui tingkat kekebalan kelompok maupun individu dari suatu kegiatan vaksinasi SE dapat dilakukan uji passive mouse protection test (PMPT) dan ELISA, yang keduanya biasanya memberikan hasil yang parallel. Uji dengan PCR hasilnya juga sangat mayakinkan, akan tetapi tidak banyak laboratorium yang melakukannya karena alasan keterbatasan sarana dan prasarana.