Mungkin selama ini kita sering keliru nih, ketika menemukan seekor anak kucing kita sering memberinya susu formula. Ternyata hal ini adalah sebuah tindakan yang salah.
Oleh Bobby Sant
Susu identik dengan anak kucing. Banyak pemula yang hanya memberikan susu sebagai makanan pada anakan kucingg yang baru dimilikinya. Susu memang makanan padat nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh anakan kucing yang belum bisa memakan makanan padat yang dimakan oleh kucing dewasa. Tapi tahukah anda bahwa tidak semua susu dapat dicerna oleh kucing?
Susu yang tidak dapat dicerna oleh kucing adalah susu yang berlaktosa seperti susu sapi segar ataupun produk sampingannya. Laktosa adalah gula susu yang merupakan salah satu komponen khas dalam susu bersama dengan trigliserida (lemak susu) dan kasein (protein susu). Kandungan laktosa sekitar 4,6% dalam susu. Untuk mencerna laktosa maka pencernaan harus menggunakan enzim laktase yaitu salah satu enzim pencernaan yang diproduksi oleh sel-sel di usus kecil yang bertugas memecah gula susu menjadi bentuk yang lebih mudah untuk diserap ke dalam tubuh. Sayangnya, pencernaan yang dimiliki oleh kucing tidak dapat memproduksi enzim ini sehingga laktosa tidak terurai, butiran laktosa akan tertinggal di muka lubang usus halus dan menyerap banyak air dari sekitarnya sehingga menimbulkan diare. Ada kalanya sebelum keluar, ia tertahan di kolon dan diurai oleh bakteri penghasil gas (CH4, CO2, H2). Akibatnya, perut menjadi kembung, nyeri lambung, hingga diare.
Ada beberapa pencernaan kucing yang akhirnya menjadi kebal terhadap laktosa. kucing tidak mengalami diare ataupun perut kembung. Hal ini bukan berarti baik karena pencernaan kucing mengalami gangguan yang tidak terlihat sehingga fungsi kerjanya menurun. kucing tidak dapat mencerna dan menyerap nutisi dengan maksimal sehingga harus diberikan makanan dengan jumlah yang lebih banyak daripada yang seharusnya. Akibatnya kucing akan kehilangan berat badan dan malnutrisi.
Jadi, apakah pemberian susu harus dihindari?
Setiap jenis susu pasti mengandung laktosa, tetapi ada susu yang mengandung laktosa sehingga dapat dikonsumsi oleh kucing. Susu berlaktosa yang dapat dikonsumsi oleh kucing adalah susu yang mengandung protein alpha S1-casein yang rendah yaitu susu yang berasal dari hewan kambing. Diluar negeri, susu kambing memang sedang ditingkatkan dan dipromosikan karena tidak menimbulkan efek samping yang merugikan seperti susu sapi. Di Indonesia memang akan lebih sulit untuk mencari susu kambing tapi tidak perlu khawatir karena produsen makann hewan sudah menyiapkan susu bebas laktosa untuk kucing sehingga anda dapat memberikan susu kepada kucing kesayangan anda tanpa menyebabkan kucing anda mengalami diare. Sayangnya produk ini harganya sangat mahal karena diimpor dalam jumlah yang kecil. Alternatif lain adalah dengan memberikan susu formula untuk bayi manusia yang bebas laktosa dengan harga yang lebih terjangkau dan lebih beragam pilihannya. Susu formula bebas laktosa biasanya diberi kode FL (free lactose) pada kemasannya.
Memang, nutrisi yang dikandung susu formula bayi tidak sama nutrisi yang dibutuhkan oleh anakan kucing tapi setidaknya lebih baik daripada susu sapi yang mengandung protein alpha S1-casein sangat tinggi sehingga dapat menyebabkan diare.
Selain pada susu, kandungan laktosa juga banyak digunakan pada produk makanan ringan untuk manusia seperti biskuit, sereal siap saji, keju, margarin, dan sebagainya sehingga perlu diperhatikan jika anda ingin memberikan makanan ringan untuk kucing anda. Lebih aman jika makanan ringan tersebut dibuat khusus untuk kucing yang diproduksi oleh produsen makanan hewan terkemuka karena walaupun mengandung susu, kandungan laktosanya sudah dihilangkan terlebih dahulu agar aman dikonsumsi oleh kucing anda.
materi referensi:
http://mediakucing.com/wmview.php?ArtID=3059
Senin, 31 Januari 2011
Senin, 24 Januari 2011
Hematuria pada Sapi Perah
Hematuria adalah suatu keadaan dimana pada urine sapi ditemui adanya darah segar atau urine berwarna merah. Penyebab dari Hematuria bermacam-macam, bisa akibat infeksi oleh parasit darah, keracunan, infeksi saluran urogenital, batu pada saluran kencing (urethra, vesica urinaria, ginjal) dan penyebab-penyebab lainnya . Gejala klinis yang paling mudah terlihat adalah ditemukannya darah segar atau urine berwarna merah pada saat sapi urinasi. Gejala lainnya adalah biasanya sapi menderita anemia, nafsu makan turun, kekurusan lemah, lesu dan gejala umum lainnya (Subronto dan Tjahajati .1989).
Kejadian biasanya yang terlihat dilapangan adalah sapi mengalami urinasi bercampur darah terjadi pada awal fiksi, kejadian ini kemungkinan adanya infeksi atau trauma pada saluran urogenital bagian bawah (vesica urinaria dan vagina). Pada kasus Hematuria di lapangan, pengobatan yang dapat diberikan adalah Intertrim® (trimetoprim 40mg, sulfadoxine 200mg/100ml) 10 ml IM, injectamin® (vitamin A, D3, E, B2, B6, B12, Nikosinamida, D-pantenol) dengan dosis 2,5-5 ml/ekor sapi atau Vitamin B-kompleks® (B1, B2, B6, Nikosinamida, D-pantenol) dengan dosis 5-10 ml/ekor sapi intra muskuler. Menurut Merck Veterinary Manual 5th edition, sebelum pengobatan pada kasus Hematuria sebaiknya ditentukan dulu penyebab utama dari Hematuria tersebut, sehingga pengobatan yang dilakukan efektif.
sumber: duniaveteriner.com
Kejadian biasanya yang terlihat dilapangan adalah sapi mengalami urinasi bercampur darah terjadi pada awal fiksi, kejadian ini kemungkinan adanya infeksi atau trauma pada saluran urogenital bagian bawah (vesica urinaria dan vagina). Pada kasus Hematuria di lapangan, pengobatan yang dapat diberikan adalah Intertrim® (trimetoprim 40mg, sulfadoxine 200mg/100ml) 10 ml IM, injectamin® (vitamin A, D3, E, B2, B6, B12, Nikosinamida, D-pantenol) dengan dosis 2,5-5 ml/ekor sapi atau Vitamin B-kompleks® (B1, B2, B6, Nikosinamida, D-pantenol) dengan dosis 5-10 ml/ekor sapi intra muskuler. Menurut Merck Veterinary Manual 5th edition, sebelum pengobatan pada kasus Hematuria sebaiknya ditentukan dulu penyebab utama dari Hematuria tersebut, sehingga pengobatan yang dilakukan efektif.
sumber: duniaveteriner.com
Awas Antibiotik dalam Daging Ternak
Masuknya residu antiobiotika ke dalam tubuh lewat konsumsi daging ternak harus diwaspadai karena dapat meningkatkan kemungkinan berkembangnya bakteri yang resisten terhadap obat-obatan.
Peringatan tersebut diungkapkan beberapa pakar di China menyusul tren penggunaan antiobiotika pada hewan ternak yang makin meningkat. Laporan menyebutkan, hampir setengah dari antibiotika yang diproduksi di Negeri Tirai Bambu itu diberikan kepada ternak daripada digunakan untuk mengendalikan penyakit pada manusia.
Peringatan tersebut diungkapkan beberapa pakar di China menyusul tren penggunaan antiobiotika pada hewan ternak yang makin meningkat. Laporan menyebutkan, hampir setengah dari antibiotika yang diproduksi di Negeri Tirai Bambu itu diberikan kepada ternak daripada digunakan untuk mengendalikan penyakit pada manusia.
Sekitar 210.000 ton antibiotika yang diproduksi di China setiap tahun, sekitar 97.000 ton di antaranya berakhir dalam tubuh hewan, ungkap Xiao Yonghong, profesor dari Institute of Clinical Pharmacology of Peking University, seperti dilansir koran People’s Daily.
Riset yang digagas Chinese Academy of Social Sciences menemukan, lebih dari 50 persen peternakan di Provinsi Shandong dan Liaoning selalu menambahkan antibiotika pada pakan hewan yang diternakkan.
"Penggunaan antibiotika sudah menjadi lumrah sekarang, yang berujung pada meningkatnya tingkat kematian hewan karena tingkat kekebalan mereka menjadi tertekan. Selain itu, antibiotika kerap merugikan kesehatan seseorang setelah diminum," ujar Qi Guanghai, kepala riset di Akademi Ilmu Agrikultur China.
"Perhatian harus diberikan pada masalah asupan antibiotika melalui konsumsi makanan sehari-hari, karena hal itu dapat meningkatkan kemungkinan bakteri kebal yang berkembang dalam tubuh manusia," ujar Huang Liuyu, direktur Institute for Disease Prevention and Control of the People's Liberation Army.
Salah satu contohnya adalah bayi seberat 650-gram yang lahir prematur di Guangzhou. Seperti dilaporkan surat kabar People's Daily, bayi ini mengidap resistensi terhadap tujuh jenis antibiotika, yang diduga kuat akibat dari kebiasaan ibunya setiap hari mengonsumsi daging dan telur yang mengandung residu atau ampas dari antibiotika.
Bulan lalu, di dataran China juga dilaporkan kasus pertama bakteri NDM-1, yang resisten pada hampir semua jenis antibiotika.
Dengan adanya fakta meningkatnya kasus resistensi obat yang terdeteksi di China dan belahan bumi lainnya, Huang mendesak pihak yang berwenang seharusnya memberi perhatian lebih pada masalah ini, dan melakukan regulasi dengan baik pada sektor ini.
"Di Eropa, antibiotika dilarang untuk ditambahkan pada makanan ternah sejak bertahun-tahun dan pelarangan yang sama akan diimplementasikan di Korea Selatan," ujar Tu Yan, periset dari Akademi Ilmu Agrikultur China.
China memperkenalkan antibiotika ke dalam industri peternakan dalam upaya pencegahan penyakit pada era 1990-an. Regulasi tentang tambahan obat-obatan diterbitkan oleh China pada 2002, dan lebih banyak fokus pada penggunaan dosis yang tepat dari jenis antibiotika berbeda pada pakan ternak. Namun regulasi tersebut tak mengatur tentang supervisi penjualan dan penggunaan antibiotika yang berlebihan.
Sumber: Kompas.com
Riset yang digagas Chinese Academy of Social Sciences menemukan, lebih dari 50 persen peternakan di Provinsi Shandong dan Liaoning selalu menambahkan antibiotika pada pakan hewan yang diternakkan.
"Penggunaan antibiotika sudah menjadi lumrah sekarang, yang berujung pada meningkatnya tingkat kematian hewan karena tingkat kekebalan mereka menjadi tertekan. Selain itu, antibiotika kerap merugikan kesehatan seseorang setelah diminum," ujar Qi Guanghai, kepala riset di Akademi Ilmu Agrikultur China.
"Perhatian harus diberikan pada masalah asupan antibiotika melalui konsumsi makanan sehari-hari, karena hal itu dapat meningkatkan kemungkinan bakteri kebal yang berkembang dalam tubuh manusia," ujar Huang Liuyu, direktur Institute for Disease Prevention and Control of the People's Liberation Army.
Salah satu contohnya adalah bayi seberat 650-gram yang lahir prematur di Guangzhou. Seperti dilaporkan surat kabar People's Daily, bayi ini mengidap resistensi terhadap tujuh jenis antibiotika, yang diduga kuat akibat dari kebiasaan ibunya setiap hari mengonsumsi daging dan telur yang mengandung residu atau ampas dari antibiotika.
Bulan lalu, di dataran China juga dilaporkan kasus pertama bakteri NDM-1, yang resisten pada hampir semua jenis antibiotika.
Dengan adanya fakta meningkatnya kasus resistensi obat yang terdeteksi di China dan belahan bumi lainnya, Huang mendesak pihak yang berwenang seharusnya memberi perhatian lebih pada masalah ini, dan melakukan regulasi dengan baik pada sektor ini.
"Di Eropa, antibiotika dilarang untuk ditambahkan pada makanan ternah sejak bertahun-tahun dan pelarangan yang sama akan diimplementasikan di Korea Selatan," ujar Tu Yan, periset dari Akademi Ilmu Agrikultur China.
China memperkenalkan antibiotika ke dalam industri peternakan dalam upaya pencegahan penyakit pada era 1990-an. Regulasi tentang tambahan obat-obatan diterbitkan oleh China pada 2002, dan lebih banyak fokus pada penggunaan dosis yang tepat dari jenis antibiotika berbeda pada pakan ternak. Namun regulasi tersebut tak mengatur tentang supervisi penjualan dan penggunaan antibiotika yang berlebihan.
Sumber: Kompas.com
Senin, 27 Desember 2010
Pemanfaatan probiotik untuk peningkatan produksi pada unggas
By : Agus
Jumlah penduduk Indonesia yang semakin banyak dan berkembang pesat berakibat pula terhadap perkembangan usaha di sektor peternakan. Sektor peternakan dituntut untuk dapat menyediakan pangan yang cukup bagi penduduk Indonesia berupa protein hewani agar manusia-manusia Indonesia dapat menjadi manusia yang sehat, cerdas dan kuat. Untuk memenuhi permintaan akan protein hewani tersebut, salah satu sektor usaha peternakan yang cukup memadai untuk menjadi andalan adalah peternakan unggas, terutama ayam broiler dan ayam petelur. Usaha peternakan dibidang perunggasan (ayam) dewasa ini semakin berkembang pesat dan meningkat sebagai konsekuensi dari meningkatnya jumlah penduduk yang selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan gizi proteinnya. Oleh karena itu usaha peternakan ini harus dikelola dengan sebaik-baiknya agar selalu menguntungkan serta produk yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat baik kuantitas maupun kualitasnya. Dalam indutri peternakan, khususnya peternakan unggas, pemberian makanan tambahan berupa feed aditive atau feed supplement biasa dilakukan. Pemberian feed 2 aditive tersebut dilakukan untuk memperbaiki performance / penampilan produksi dari ternak unggas. Bermacam-macam jenis feed aditive antara lain adalah obat-obatan, antibiotika atau hormon-hormon pertumbuhan. Akan tetapi pemberian feed aditiv tersebut belakangan ini tidak memuaskan karena sedikit banyak mempunyai efek samping yang kurang baik, baik terhadap hewan ternaknya sendiri, maupun terhadap
manusia yang mengkonsumsi hasil ternaknya. Sebagai contoh pemberian antibiotika dapat menyebabkan resistensi terhadap suatu jenis penyakit, sehingga penyakit tersebut sulit untuk disembuhkan dan bahkan dapat menyebabkan timbulnya jenis penyakit baru. Penggunaan hormon-hormon pertumbuhan dapat menyebabkan efek yang kurang baik terhadap manusia yang mengkonsumsi hasil ternaknya, karena residu yang tertinggal dari hormon-hormon pertumbuhan pada daging atau telur ayam, secara tidak langsung akan ikut terkonsumsi juga oleh manusia yang memakannya dan terakumulasi dalam tubuh. Belakangan ini mulai berkembang makanan tambahan jenis baru berupa probiotika. Probiotika merupakan suatu makanan tambahan atau feed aditive yang berupa mikroorganisme hidup, baik bakteri maupun yeast/kapang yang diberikan melalui campuran ransum atau air minum. Adapun tujuan pemberian probiotika adalah untuk memperbaiki keseimbangan populasi mikroba didalam saluran pencernaan, dimana mikroba-mikroba yang menguntungkan populasinya akan meningkat dan menekan pertumbuhan mikroba yang merugikan yang sebagian besar adalah mikroba penyebab penyakit (mikroba patogen). Pemakaian probiotika ini tidak mempunyai pengaruh yang negatif baik kepada ternaknya sendiri, maupun kepada manusia yang mengkonsumsi hasil ternaknya. Pemberian probiotika juga sering digunakan sebagai alternatif untuk membatasi penggunaan antibiotika yang terlalu sering dalam pengobatan penyakit, untuk menghindari resistensi suatu jenis penyakit. Selain itu pemberian probiotika juga dapat digunakan untuk mengurangi atau mencegah terjadinya kontaminasi mikroba penyebab penyakit (mikroba patogenik) terhadap produk-produk hasil unggas, sehingga produkproduk yang dihasilkan terjaga kehigienisannya. Dengan demikian pemberian probiotika pada ternak unggas diharapkan akan mampu memperbaiki penampilan produksinya baik kuantitas yaitu jumlah ternak, daging atau telur yang dihasilkan lebih banyak, maupun kualitasnya berupa produk-produk yang sehat dan aman untuk dikonsumsi.
Jumlah penduduk Indonesia yang semakin banyak dan berkembang pesat berakibat pula terhadap perkembangan usaha di sektor peternakan. Sektor peternakan dituntut untuk dapat menyediakan pangan yang cukup bagi penduduk Indonesia berupa protein hewani agar manusia-manusia Indonesia dapat menjadi manusia yang sehat, cerdas dan kuat. Untuk memenuhi permintaan akan protein hewani tersebut, salah satu sektor usaha peternakan yang cukup memadai untuk menjadi andalan adalah peternakan unggas, terutama ayam broiler dan ayam petelur. Usaha peternakan dibidang perunggasan (ayam) dewasa ini semakin berkembang pesat dan meningkat sebagai konsekuensi dari meningkatnya jumlah penduduk yang selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan gizi proteinnya. Oleh karena itu usaha peternakan ini harus dikelola dengan sebaik-baiknya agar selalu menguntungkan serta produk yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat baik kuantitas maupun kualitasnya. Dalam indutri peternakan, khususnya peternakan unggas, pemberian makanan tambahan berupa feed aditive atau feed supplement biasa dilakukan. Pemberian feed 2 aditive tersebut dilakukan untuk memperbaiki performance / penampilan produksi dari ternak unggas. Bermacam-macam jenis feed aditive antara lain adalah obat-obatan, antibiotika atau hormon-hormon pertumbuhan. Akan tetapi pemberian feed aditiv tersebut belakangan ini tidak memuaskan karena sedikit banyak mempunyai efek samping yang kurang baik, baik terhadap hewan ternaknya sendiri, maupun terhadap
manusia yang mengkonsumsi hasil ternaknya. Sebagai contoh pemberian antibiotika dapat menyebabkan resistensi terhadap suatu jenis penyakit, sehingga penyakit tersebut sulit untuk disembuhkan dan bahkan dapat menyebabkan timbulnya jenis penyakit baru. Penggunaan hormon-hormon pertumbuhan dapat menyebabkan efek yang kurang baik terhadap manusia yang mengkonsumsi hasil ternaknya, karena residu yang tertinggal dari hormon-hormon pertumbuhan pada daging atau telur ayam, secara tidak langsung akan ikut terkonsumsi juga oleh manusia yang memakannya dan terakumulasi dalam tubuh. Belakangan ini mulai berkembang makanan tambahan jenis baru berupa probiotika. Probiotika merupakan suatu makanan tambahan atau feed aditive yang berupa mikroorganisme hidup, baik bakteri maupun yeast/kapang yang diberikan melalui campuran ransum atau air minum. Adapun tujuan pemberian probiotika adalah untuk memperbaiki keseimbangan populasi mikroba didalam saluran pencernaan, dimana mikroba-mikroba yang menguntungkan populasinya akan meningkat dan menekan pertumbuhan mikroba yang merugikan yang sebagian besar adalah mikroba penyebab penyakit (mikroba patogen). Pemakaian probiotika ini tidak mempunyai pengaruh yang negatif baik kepada ternaknya sendiri, maupun kepada manusia yang mengkonsumsi hasil ternaknya. Pemberian probiotika juga sering digunakan sebagai alternatif untuk membatasi penggunaan antibiotika yang terlalu sering dalam pengobatan penyakit, untuk menghindari resistensi suatu jenis penyakit. Selain itu pemberian probiotika juga dapat digunakan untuk mengurangi atau mencegah terjadinya kontaminasi mikroba penyebab penyakit (mikroba patogenik) terhadap produk-produk hasil unggas, sehingga produkproduk yang dihasilkan terjaga kehigienisannya. Dengan demikian pemberian probiotika pada ternak unggas diharapkan akan mampu memperbaiki penampilan produksinya baik kuantitas yaitu jumlah ternak, daging atau telur yang dihasilkan lebih banyak, maupun kualitasnya berupa produk-produk yang sehat dan aman untuk dikonsumsi.
Sabtu, 18 Desember 2010
BUDIDAYA AYAM BROILER (PEDAGING)
Ayam Pedaging (Broiler) adalah ayam ras yang mampu tumbuh cepat sehingga dapat menghasilkan daging dalam waktu relatif singkat (5-7 minggu). Broiler mempunyai peranan yang penting sebagai sumber protein hewani asal ternak.
B. Pemilihan Bibit
Bibit yang baik mempunyai ciri : sehat dan aktif bergerak, tubuh gemuk (bentuk tubuh bulat), bulu bersih dan kelihatan mengkilat, hidung bersih, mata tajam dan bersih serta lubang kotoran (anus) bersih
C. Kondisi Teknis yang Ideal
a. Lokasi kandang
Kandang ideal terletak di daerah yang jauh dari pemukiman penduduk, mudah dicapai sarana transportasi, terdapat sumber air, arahnya membujur dari timur ke barat.
b.Pergantian udara dalam kandang.
Ayam bernapas membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Supaya kebutuhan oksigen selalu terpenuhi, ventilasi kandang harus baik.
c.Suhu udara dalam kandang.
Suhu ideal kandang sesuai umur adalah :
Umur (hari) Suhu ( 0C )
01 - 07 34 - 32
08 - 14 29 - 27
15 - 21 26 - 25
21 - 28 24 - 23
29 - 35 23 - 21
d.Kemudahan mendapatkan sarana produksi
Lokasi kandang sebaiknya dekat dengan poultry shop atau toko sarana peternakan.
D. Tata Laksana Pemeliharaan
1 Perkembangan
Tipe kandang ayam Broiler ada dua, yaitu bentuk panggung dan tanpa panggung (litter). Tipe panggung lantai kandang lebih bersih karena kotoran langsung jatuh ke tanah, tidak memerlukan alas kandang sehingga pengelolaan lebih efisien, tetapi biaya pembuatan kandang lebih besar. Tipe litter lebih banyak dipakai peternak, karena lebih mudah dibuat dan lebih murah.
Pada awal pemeliharaan, kandang ditutupi plastik untuk menjaga kehangatan, sehingga energi yang diperoleh dari pakan seluruhnya untuk pertumbuhan, bukan untuk produksi panas tubuh. Kepadatan kandang yang ideal untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah 8-10 ekor/m2, lebih dari angka tersebut, suhu kandang cepat meningkat terutama siang hari pada umur dewasa yang menyebabkan konsumsi pakan menurun, ayam cenderung banyak minum, stress, pertumbuhan terhambat dan mudah terserang penyakit.
2. Pakan
- Pakan merupakan 70% biaya pemeliharaan. Pakan yang diberikan harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang dibutuhkan ayam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, sehingga pertambahan berat badan perhari (Average Daily Gain/ADG) tinggi. Pemberian pakan dengan sistem ad libitum (selalu tersedia/tidak dibatasi).
- Apabila menggunakan pakan dari pabrik, maka jenis pakan disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua) tahap. Tahap pertama disebut tahap pembesaran (umur 1 sampai 20 hari), yang harus mengandung kadar protein minimal 23%. Tahap kedua disebut penggemukan (umur diatas 20 hari), yang memakai pakan berkadar protein 20 %. Jenis pakan biasanya tertulis pada kemasannya.
- Efisiensi pakan dinyatakan dalam perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio). Cara menghitungnya adalah, jumlah pakan selama pemeliharaan dibagi total bobot ayam yang dipanen.
Contoh perhitungan :
Diketahui ayam yang dipanen 1000 ekor, berat rata-rata 2 kg, berat pakan selama pemeliharaan 3125 kg, maka FCR-nya adalah :
Berat total ayam hasil panen =
1000 x 2 = 2000 kg
FCR = 3125 : 2000 = 1,6
Semakin rendah angka FCR, semakin baik kualitas pakan, karena lebih efisien (dengan pakan sedikit menghasilkan bobot badan yang tinggi).
3. Vaksinasi
Vaksinasi adalah pemasukan bibit penyakit yang dilemahkan ke tubuh ayam untuk menimbulkan kekebalan alami. Vaksinasi penting yaitu vaksinasi ND/tetelo. Dilaksanakan pada umur 4 hari dengan metode tetes mata, dengan vaksin ND strain B1 dan pada umur 21 hari dengan vaksin ND Lasotta melalui suntikan atau air minum.
4. Teknis Pemeliharaan
- 1. Pemberian Pakan dan Minuman
Untuk pemberian pakan ayam ras broiler ada 2 (dua) fase yaitu fase starter (umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6 minggu).
a. Kualitas dan kuantitas pakan fase starter adalah sebagai berikut:
- kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 22-24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9%, ME 2800-3500 Kcal.
- kuantitas pakan terbagi/digolongkan menjadi 4 (empat) golongan yaitu minggu pertama (umur 1-7 hari) 17 gram/hari/ekor, minggu kedua (umur 8-14 hari) 43 gram/hari/ekor, minggu ke-3 (umur 15-21 hari) 66 gram/hari/ekor dan minggu ke-4 (umur 22-29 hari) 91 gram/hari/ekor.
Jadi jumlah pakan yang dibutuhkan tiap ekor sampai pada umur 4 minggu sebesar 1.520 gram.
b. Kualitas dan kuantitas pakan fase finisher adalah sebagai berikut:
- kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 18,1-21,2%; lemak 2,5%, serat kasar 4,5%, kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9% dan energi (ME) 2900-3400 Kcal.
- kuantitas pakan terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur yaitu: minggu ke-5 (umur 30-36 hari) 111 gram/hari/ekor, minggu ke-6 (umut 37-43 hari) 129 gram/hari/ekor, minggu ke-7 (umur 44-50 hari) 146 gram/hari/ekor dan minggu ke-8 (umur 51-57 hari) 161 gram/hari/ekor. Jadi total jumlah pakan per ekor pada umur 30-57 hari adalah 3.829 gram.
1. Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam yang dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu:
a. Fase starter (umur 1-29 hari), kebutuhan air minum terbagi lagi pada masing-masing minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor, minggu ke-3 (15-21 hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor. Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4 minggu adalah
sebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari pertama hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress kedalam air minumnya. Banyaknya gula yang diberikan adalah 50 gram/liter air.
b. Fase finisher (umur 30-57 hari), terkelompok dalam masing-masing minggu yaitu minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 liter/hari/100 ekor, minggu ke-6 (37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor, minggu ke-7 (44-50 hari) 12,7 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-8 (51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor. Jadi total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor.
4.5. Penyakit
Penyakit yang sering menyerang ayam broiler yaitu :
- Tetelo (Newcastle Disease/ND)
Disebabkan virus Paramyxo yang bersifat menggumpalkan sel darah. Gejalanya ayam sering megap-megap, nafsu makan turun, diare dan senang berkumpul pada tempat yang hangat. Setelah 1 - 2 hari muncul gejala syaraf, yaitu kaki lumpuh, leher berpuntir dan ayam berputar-putar yang akhirnya mati. Ayam yang terserang secepatnya dipisah, karena mudah menularkan kepada ayam lain melalui kotoran dan pernafasan. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, maka untuk mengurangi kematian, ayam yang masih sehat divaksin ulang dan dijaga agar lantai kandang tetap kering.
- Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD)
Merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus golongan Reovirus. Gejala diawali dengan hilangnya nafsu makan, ayam suka bergerak tidak teratur, peradangan disekitar dubur, diare dan tubuh bergetar-getar. Sering menyerang pada umur 36 minggu. Penularan secara langsung melalui kotoran dan tidak langsung melalui pakan, air minum dan peralatan yang tercemar. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, yang dapat dilakukan adalah pencegahan dengan vaksin Gumboro.
- Penyakit Ngorok (Chronic Respiratory Disease)
Merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum Gejala yang nampak adalah ayam sering bersin dan ingus keluar lewat hidung dan ngorok saat bernapas. Pada ayam muda menyebabkan tubuh lemah, sayap terkulai, mengantuk dan diare dengan kotoran berwarna hijau, kuning keputih-keputihan. Penularan melalui pernapasan dan lendir atau melalui perantara seperti alat-alat. Pengobatan dapat dilakukan dengan obat-obatan yang sesuai.
- Berak Kapur (Pullorum).
Disebut penyakit berak kapur karena gejala yang mudah terlihat adalah ayam diare mengeluarkan kotoran berwarna putih dan setelah kering menjadi seperti serbuk kapur. Disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum.
Kematian dapat terjadi pada hari ke-4 setelah infeksi. Penularan melalui kotoran. Pengobatan belum dapat memberikan hasil yang memuaskan, yang sebaiknya dilakukan adalah pencegahan dengan perbaikan sanitasi kandang.
Infeksi bibit penyakit mudah menimbulkan penyakit, jika ayam dalam keadaan lemah atau stres. Kedua hal tersebut banyak disebabkan oleh kondisi lantai kandang yang kotor, serta cuaca yang jelek. Cuaca yang mudah menyebabkan ayam lemah dan stres adalah suhu yang terlalu panas, terlalu dingin atau berubah-ubah secara drastis. Penyakit, terutama yang disebabkan oleh virus sukar untuk disembuhkan. Untuk itu harus dilakukan sanitasi secara rutin dan ventilasi kandang yang baik.
4.6. Sanitasi/Cuci Hama Kandang
Sanitasi kandang harus dilakukan setelah panen. Dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu pencucian kandang dengan air hingga bersih dari kotoran limbah budidaya sebelumnya. Tahap kedua yaitu pengapuran di dinding dan lantai kandang. Untuk sanitasi yang sempurna selanjutnya dilakukan penyemprotan dengan formalin, untuk membunuh bibit penyakit. Setelah itu dibiarkan minimal selama 10 hari sebelum budidaya lagi untuk memutus siklus hidup virus dan bakteri, yang tidak mati oleh perlakuan sebelumnya.
Rabu, 15 Desember 2010
CANINE PARVO VIRUS
CANINE PARVO VIRUS
by: scoobydoo
Canine parvovirus adalah salah satu virus yang paling umum menyerang anjing di Indonesia terutama anak anjing dibawah 6 bulan. Parvo adalah penyakit yang sangat menular dengan tanda-tanda diare akut yang kebanyakan berdarah. Parvo disebabkan oleh pathogen yand disebut Canine Parvo Virus, type 2 (CPV-2).
Vaksinasi yang kita punyai sekarang dapat menolong penyebaran dari virus parvo ini, tetapi meskipun sudah divaksinasi, ada beberapa kasus dimana anjing kita masih dapat terjangkit dan mati oleh karena parvo virus.
Dengan adanya artikel ini, Team DuniaAnjing.com mengharapkan para pemilik anjing dapat lebih mengerti dan mengenal parvo virus, sehingga dapat membuat keputusan yang baik untuk mengurangi sampai mencegah terjadinya penyebaran virus ini.
Bagaimana Parvo Virus menular ?
CPV-2 dapat bertahan dan hidup menempel di lingkungan sekitar kita, seperti misalnya pakaian, tempat makan dan kandang untuk lebih dari 5 bulan dalam kondisi yang baik baginya. Kuman ataupun kecoak dapat pula menjadi alat penyebaran penyakit ini. Semua parvo virus sangat stabil dan tahan dengan kondisi lingkungan sekitarnya seperti pH yang rendah maupun suhu yang tinggi/panas. Penggunaan ultraviolet light atau cahaya matahari dan sodium hypochlorite (bleach/pemutih dicampur dengan air secukupnya / setengah gelas bleach dicampur dengan 1.5 liter air), dapat melumpuhkan parvo virus. Masa inkubasi parvo virus (waktu dari mulainya terjangkit oleh parvo virus sampai muncul tanda-tandanya) adalah sekitar 7 – 14 hari. Pendarahan pada kotoran anjing kita dapat mulai terlihat dalam waktu 2-3 hari setelah terjangkit virus ini, sering tanpa tanda-tanda yang lain, dan kemudian akan berakhir dalam waktu 1-2 minggu.
Symptoms/Gejala-gejala
Gejala-gejala yang dapat timbul pada anjing kita yang terserang parvo virus sangatlah beragam. Kebanyakan anjing dewasa yang terserang parvo virus hanya menunjukan sedikit gejala-gejala. Pada umumnya gejala-gejala yang jelas terlihat pada anjing-anjing yang berumur dibawah 6 bulan, dengan kasus-kasus yang paling parah terjadi pada anak anjing yang baru berumur sekitar 12 minggu. Response terhadap serangan virus CPV-2, baik infeksi maupun vaksinasi juga berbeda antara satu trah dengan trah yang lainnya. Trah yang paling banyak terkena kasus ini adalah Rottweiler, Doberman & Labrador Retriever.
Bentuk yang paling umum dari penyakit yang disebabkan oleh parvo virus (Enteritis) ditandai dengan muntah-muntah (kadang akut), diare, dehidrasi, kotoran yang kehitaman/berdarah dan dalam kasus-kasus yang parah, demam dan terjadi penurunan jumlah sel darah putih dalam darah. Acute CPV-2 enteritis dapat terjadi pada anjing trah, jenis kelamin, dan umur berapa saja. Penyebaran virus ini sangat cepat dan kematian dapat terjadi bahkan pada hari ke dua setelah anjing kita diserang oleh parvo virus terutama pada anak anjing. Adanya bakteri & parasit atau virus-virus yang lain pada anjing yang sedang diserah oleh parvo virus akan memperparah kerusakan yang disebabkan oleh parvo virus dan juga proses recovery yang lambat.
Diagnosa
Tidak semua kasus diare yang mengeluarkan darah atau muntah disebabkan oleh parvo virus, dan banyak sekali anak anjing yang salah didiagnosa bahwa terkena parvo virus. Satu-satunya cara untuk mengetahui anjing kita terkena Parvo virus adalah melalui “positive Diagnostic test”. Di sisi yang lain dapat pula melakukan beberapa test yang lebih memakan waktu dan juga biaya, yaitu dengan melakukan test secara tradisional, dengan melakukan check darah, dan juga metode terbaru dan sangat simple test pada kotoran dengan menggunakan “enzyme-linked immunosorbent assay antigen test (ELISA)” yang sekarang sudah banyak tersedia di klinik-klinik hewan. Hanya dengan di test saja baru kita dapat memastikan apakah terserang parvo virus atau bukan dan memberikan pengobatan terhadap penyakit ini.
Pengobatan / Treatment
Pengobatan terhadap parvo virus relative tidak berbelit-belit dan langsung ke tindakan-tindakan yang dapat mensupport hidup anjing yang terserang parvo virus. Penggantian cairan tubuh yang hilang akibat dari muntah dan diare adalah kemungkinan langkah yang paling penting dan yang paling pertama harus dilakukan. Dalam kasus muntah-muntah yang parah, pemberian obat anti muntah untuk memperlambat/menghentikan perlu diberikan. Therapy antibiotic juga biasanya diberikan untuk mengontrol serangan infeksi yang mungkin timbul dari secondary bakteri. Setelah gejala-gejala (intestinal symptoms) telah berkurang, penggunaan obat cacing biasanya dilakukan. Mengatur jumlah makanan selama anjing kita masih terus muntah juga harus dilakukan. Apabila pengobatan ini tidak dilakukan dengan baik dan serius apalagi tanpa pengawasan dari dokter hewan maupun professional, kesembuhan anjing yang terkena serangan parvo virus sangat sulit. Bahkan dengan pengawasan yang terbaikpun, tingkat kematian yang terjadi masih tetap tinggi. Tanda Pemberian cairan dalam jumlah yang tepat kedalam tubuh anjing yang sudah diserang oleh parvo virus, kemungkin recoverynya sangatlah kecil.
Daya Tahan Tubuh (Antibodi) & Vaksinasi
Apabila seekor anak anjing berhasil lolos dari serangan infeksi CPV-2, maka anak anjing tersebut akan daya tahan tubuh yang kebal terhadap serangan virus yang sama paling tidak selama 20 bulan, bahkan mungkin seumur hidupnya. Setelah recovery, virus tidak akan disebarkan lagi melalui kotorannya.
Untuk vaksin, banyak vaksin yang tersedia secara komersil. Meskipun banyak pemilik anjing yang khawatir bahwa pemberian vaksin parvo yang menggunakan virus hidup yang telah dimodifikasi akan justru menularkan parvo virus kepada anjingnya, namun hasil penelitian telah berulang kali menunjukan bahwa vaksin yang disiapkan secara komersial adalah aman dan tidak menyebakan penyakit.
Penyebab utama kegagalan pada saat pemberian vaksin parvo virus adalah tingkat daya tahan tubuh anjing kita yang diperoleh pada saat lahir dari induknya (Maternal antibody level). Maternal antibodi adalah antibodi yang didapat dari air susu induknya yang harus diberikan kepada anak anjing langsung dalam waktu 24 jam setelah anak anjingnya lahir. Maternal antibodi yang tinggi pada darah anak anjing akan menghalangi ke-efektifan dari pada vaksinasi. Maternal antibody harus turun pada level yang cukup rendah agar imunisasi dengan menggunakan vaksin komersil dapat bekerja.
Yang menjadi permasalahan adalah, ada waktu antara beberapa hari sampai sekitar 2 minggu, dimana Maternal antibodi sudah turun terlalu rendah untuk menjaga kekebalan tubuh anjing terhadap CPV-2, namun masih terlalu tinggi untuk membiarkan vaksin bekerja. Waktu ini dinamakan “Window of susceptibility”. Lamanya dan waktu dari Window of Susceptibility ini berbeda antara tiap kelahiran.
Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, parvo virus adalah penyakit yang umum kita dengar dan juga sebagai penyebab kematian terutama pada anak anjing. Dengan kemampuan virus ini untuk menular melalui tangan, pakaian, dan yang pasti adalah kecoak dan serangga, secara virtual akan tidak mungkin sebuah kennel tidak terkena serangan virus ini. Vaksin dengan menggunakan virus hidup yang sudah dimodifikasi adalah aman dan efektif, namun perlu diingat bahwa ada “window of Susceptibility” yang terjadi kira-kira beberapa hari sehingga pada hari-hari itu, anak-anak anjing tetap beresiko tinggi untuk tertular parvo virus. Yang harus kita jaga adalah kebersihan lingkungan, vaksinasi tepat waktu di dokter hewan. Apabila sudah terserang parvo virus, harus segera dibawa ke dokter hewan kita untuk menerima pengobatan/perawatan, ketepatan dan kecepatan pengobatan akan mempengaruhi tingkat hidup anjing yang sudah terkena CPV-2.
by: scoobydoo
Canine parvovirus adalah salah satu virus yang paling umum menyerang anjing di Indonesia terutama anak anjing dibawah 6 bulan. Parvo adalah penyakit yang sangat menular dengan tanda-tanda diare akut yang kebanyakan berdarah. Parvo disebabkan oleh pathogen yand disebut Canine Parvo Virus, type 2 (CPV-2).
Vaksinasi yang kita punyai sekarang dapat menolong penyebaran dari virus parvo ini, tetapi meskipun sudah divaksinasi, ada beberapa kasus dimana anjing kita masih dapat terjangkit dan mati oleh karena parvo virus.
Dengan adanya artikel ini, Team DuniaAnjing.com mengharapkan para pemilik anjing dapat lebih mengerti dan mengenal parvo virus, sehingga dapat membuat keputusan yang baik untuk mengurangi sampai mencegah terjadinya penyebaran virus ini.
Bagaimana Parvo Virus menular ?
CPV-2 dapat bertahan dan hidup menempel di lingkungan sekitar kita, seperti misalnya pakaian, tempat makan dan kandang untuk lebih dari 5 bulan dalam kondisi yang baik baginya. Kuman ataupun kecoak dapat pula menjadi alat penyebaran penyakit ini. Semua parvo virus sangat stabil dan tahan dengan kondisi lingkungan sekitarnya seperti pH yang rendah maupun suhu yang tinggi/panas. Penggunaan ultraviolet light atau cahaya matahari dan sodium hypochlorite (bleach/pemutih dicampur dengan air secukupnya / setengah gelas bleach dicampur dengan 1.5 liter air), dapat melumpuhkan parvo virus. Masa inkubasi parvo virus (waktu dari mulainya terjangkit oleh parvo virus sampai muncul tanda-tandanya) adalah sekitar 7 – 14 hari. Pendarahan pada kotoran anjing kita dapat mulai terlihat dalam waktu 2-3 hari setelah terjangkit virus ini, sering tanpa tanda-tanda yang lain, dan kemudian akan berakhir dalam waktu 1-2 minggu.
Symptoms/Gejala-gejala
Gejala-gejala yang dapat timbul pada anjing kita yang terserang parvo virus sangatlah beragam. Kebanyakan anjing dewasa yang terserang parvo virus hanya menunjukan sedikit gejala-gejala. Pada umumnya gejala-gejala yang jelas terlihat pada anjing-anjing yang berumur dibawah 6 bulan, dengan kasus-kasus yang paling parah terjadi pada anak anjing yang baru berumur sekitar 12 minggu. Response terhadap serangan virus CPV-2, baik infeksi maupun vaksinasi juga berbeda antara satu trah dengan trah yang lainnya. Trah yang paling banyak terkena kasus ini adalah Rottweiler, Doberman & Labrador Retriever.
Bentuk yang paling umum dari penyakit yang disebabkan oleh parvo virus (Enteritis) ditandai dengan muntah-muntah (kadang akut), diare, dehidrasi, kotoran yang kehitaman/berdarah dan dalam kasus-kasus yang parah, demam dan terjadi penurunan jumlah sel darah putih dalam darah. Acute CPV-2 enteritis dapat terjadi pada anjing trah, jenis kelamin, dan umur berapa saja. Penyebaran virus ini sangat cepat dan kematian dapat terjadi bahkan pada hari ke dua setelah anjing kita diserang oleh parvo virus terutama pada anak anjing. Adanya bakteri & parasit atau virus-virus yang lain pada anjing yang sedang diserah oleh parvo virus akan memperparah kerusakan yang disebabkan oleh parvo virus dan juga proses recovery yang lambat.
Diagnosa
Tidak semua kasus diare yang mengeluarkan darah atau muntah disebabkan oleh parvo virus, dan banyak sekali anak anjing yang salah didiagnosa bahwa terkena parvo virus. Satu-satunya cara untuk mengetahui anjing kita terkena Parvo virus adalah melalui “positive Diagnostic test”. Di sisi yang lain dapat pula melakukan beberapa test yang lebih memakan waktu dan juga biaya, yaitu dengan melakukan test secara tradisional, dengan melakukan check darah, dan juga metode terbaru dan sangat simple test pada kotoran dengan menggunakan “enzyme-linked immunosorbent assay antigen test (ELISA)” yang sekarang sudah banyak tersedia di klinik-klinik hewan. Hanya dengan di test saja baru kita dapat memastikan apakah terserang parvo virus atau bukan dan memberikan pengobatan terhadap penyakit ini.
Pengobatan / Treatment
Pengobatan terhadap parvo virus relative tidak berbelit-belit dan langsung ke tindakan-tindakan yang dapat mensupport hidup anjing yang terserang parvo virus. Penggantian cairan tubuh yang hilang akibat dari muntah dan diare adalah kemungkinan langkah yang paling penting dan yang paling pertama harus dilakukan. Dalam kasus muntah-muntah yang parah, pemberian obat anti muntah untuk memperlambat/menghentikan perlu diberikan. Therapy antibiotic juga biasanya diberikan untuk mengontrol serangan infeksi yang mungkin timbul dari secondary bakteri. Setelah gejala-gejala (intestinal symptoms) telah berkurang, penggunaan obat cacing biasanya dilakukan. Mengatur jumlah makanan selama anjing kita masih terus muntah juga harus dilakukan. Apabila pengobatan ini tidak dilakukan dengan baik dan serius apalagi tanpa pengawasan dari dokter hewan maupun professional, kesembuhan anjing yang terkena serangan parvo virus sangat sulit. Bahkan dengan pengawasan yang terbaikpun, tingkat kematian yang terjadi masih tetap tinggi. Tanda Pemberian cairan dalam jumlah yang tepat kedalam tubuh anjing yang sudah diserang oleh parvo virus, kemungkin recoverynya sangatlah kecil.
Daya Tahan Tubuh (Antibodi) & Vaksinasi
Apabila seekor anak anjing berhasil lolos dari serangan infeksi CPV-2, maka anak anjing tersebut akan daya tahan tubuh yang kebal terhadap serangan virus yang sama paling tidak selama 20 bulan, bahkan mungkin seumur hidupnya. Setelah recovery, virus tidak akan disebarkan lagi melalui kotorannya.
Untuk vaksin, banyak vaksin yang tersedia secara komersil. Meskipun banyak pemilik anjing yang khawatir bahwa pemberian vaksin parvo yang menggunakan virus hidup yang telah dimodifikasi akan justru menularkan parvo virus kepada anjingnya, namun hasil penelitian telah berulang kali menunjukan bahwa vaksin yang disiapkan secara komersial adalah aman dan tidak menyebakan penyakit.
Penyebab utama kegagalan pada saat pemberian vaksin parvo virus adalah tingkat daya tahan tubuh anjing kita yang diperoleh pada saat lahir dari induknya (Maternal antibody level). Maternal antibodi adalah antibodi yang didapat dari air susu induknya yang harus diberikan kepada anak anjing langsung dalam waktu 24 jam setelah anak anjingnya lahir. Maternal antibodi yang tinggi pada darah anak anjing akan menghalangi ke-efektifan dari pada vaksinasi. Maternal antibody harus turun pada level yang cukup rendah agar imunisasi dengan menggunakan vaksin komersil dapat bekerja.
Yang menjadi permasalahan adalah, ada waktu antara beberapa hari sampai sekitar 2 minggu, dimana Maternal antibodi sudah turun terlalu rendah untuk menjaga kekebalan tubuh anjing terhadap CPV-2, namun masih terlalu tinggi untuk membiarkan vaksin bekerja. Waktu ini dinamakan “Window of susceptibility”. Lamanya dan waktu dari Window of Susceptibility ini berbeda antara tiap kelahiran.
Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, parvo virus adalah penyakit yang umum kita dengar dan juga sebagai penyebab kematian terutama pada anak anjing. Dengan kemampuan virus ini untuk menular melalui tangan, pakaian, dan yang pasti adalah kecoak dan serangga, secara virtual akan tidak mungkin sebuah kennel tidak terkena serangan virus ini. Vaksin dengan menggunakan virus hidup yang sudah dimodifikasi adalah aman dan efektif, namun perlu diingat bahwa ada “window of Susceptibility” yang terjadi kira-kira beberapa hari sehingga pada hari-hari itu, anak-anak anjing tetap beresiko tinggi untuk tertular parvo virus. Yang harus kita jaga adalah kebersihan lingkungan, vaksinasi tepat waktu di dokter hewan. Apabila sudah terserang parvo virus, harus segera dibawa ke dokter hewan kita untuk menerima pengobatan/perawatan, ketepatan dan kecepatan pengobatan akan mempengaruhi tingkat hidup anjing yang sudah terkena CPV-2.
Senin, 13 Desember 2010
RADANG LIMPA (ANTHRAX)
RADANG LIMPA
Sinonim: Antrak, AnthraxRadang limpa merupakan penyakit akut disertai demam yang ditandai dengan bakterimia yang bersifat terminal pada kebanyakan spesies hewan. Meskipun radang limpa merupakan penyakit ruminansia dan kuda namun hewan tersebut dapat juga menyerang hewan-hewan menyusui lainnya secara luas.
Etiologi
Radang limpa disebabkan oleh Bacillus anthracis, yang hanya merupakan penyakit hewan menyusui. Kuman tersebut bersifat Gram positif, berukuran besar dan tidak dapat bergerak. Kuman yang sedang menghasilkan spora memiliki garis tengah 1 mikron atau lebih dan panjangnya 3 mikron atau lebih.
Epidemiologi
Meskipun antrak terdapat diseluruh dunia namun pada umumnya terbatas pada beberapa wilayah saja. Dibandingkan dengan wilayah yang biasa terserang oleh penyakit radang paha (Black leg), wilayah yang terserang radang limpa biasanya lebih bersifat terbatas. Daerah-daerah yang terserang radang limfa biasanya memiliki tanah yang bersifat alkalis dan kaya bahan-bahan organik.
Banyak daerah peternakan yang diketahui merupakan daerah penyakit radang limpa tidak mengalami wabah dalam jangka waktu yang panjang, meskipun tidak dilakukan vaksinasi. Apabila terjadi perubahan ekologik, misalnya karena datangnya musim hujan, spora basil yang semula bersifat laten akan berkembang hingga terjadi penigkatan populasi kuman dan selanjutnya kuman-kuman dapat menyerang ternak di tempat tersebut. (Van Ness,1961).
Sumber utama infeksi kuman adalah tanah dan air. Dalam beberapa kejadian penyakit terbukti bahwa pakan yang tercemar oleh spora dari kuman, terutama tepung yang ditambahkan ke dalam ransum, menyebabkan terjadinya wabah antrak. Kebanyakan kasus antrak terjadi pada waktu ternak digembalakan di padang rumput. Padang rumput yang baru saja menerima air berlebihan dari daerah lain merupakan padang penggembalaan yang berbahaya. Pada umumnya kuman masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan makanan. Selain itu kuman dapat memasuki tubuh melalui saluran pernafasan dan penetrasi kulit penderita.
Spesies sapi, domba, dan kuda biasanya yang paling banyak menderita. Babi memiliki ketahan yang lebih dan bila terinfeksi hanya berbentuk sebagai radang tekak (faringeitis) yang tidak fatal. Hewan pemakan daging dapat menderita radang limpa. Hewan-hewan terakhir tersebut mungkin mendapatkan daging dari bangkai, atau diberi makan dikebun binatang dengan daging-daging yang tidak diketahui berasal dari penderita radang limpa.
Hewan yang mati karena antrak biasanya menunjukkan bakterimia yang hebat. Pada saat kematian populasi kuman tersebut terdiri kuman berbentuk batang yang bersifat vegetatif yang pada bangkai yang tidak dibuka akan mengalami autolisis. Oleh infasi kuman-kuman pembusuk (Cavader bacilis) kuman radang limpa tidak mampu bertahan dan akan mati. Pada waktu bangkai dibuka untuk pemeriksaan, oksigen yang ada di udara akan segera mengubah kuman-kuman labil tersebut menjadi spora yang memiliki ketahanan yang tinggi. Dengan pertimbangan tersebut pemeriksaan bedah bangkai penderita antrak tidak dibenarkan dan dilarang.
Patogenesis
Kebanyakan infeksi terjadi melalui selaput lendir, selanjutnya kuman akan memasuki cairan limfe dan kemudian berakhir di dalam darah. Bakterimia yang terjadi berlangsung dengan hebatnya dan di dalam darah perifer dapat ditemukan kuman sebanyak lebih kurang 1 milyard sel kuman dalam tiap mililiter darah (Keppie, 1995). Dalam percobaan yang dilakukan pada hewan coba, hewan coba tersebut dapat dibebas-kumankan dengan penyuntikan streptomisin apabila tingkat bakterimianya masih 1:300 dari tingkat bakterimia yang ditemukan sebelum penderita mengalami kematian. Meskipun demikian, dalam beberapa hari hewan coba tersebut akan mengalami kematian akibat shock sekunder dan kegagal dari ginjal. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa kematian hewan tidak disebabkan karena terjadinya penutupan kapiler oleh bentukan-bentukan gumpalan kuman dalam jumlah yang besar.
Gejala Klinis
Pada penyakit yang berlangsung perakut, domba dan sapi banyak yang mengalami kematian dalam waktu singkat. Proses yang berlangsung perakut tersebut biasanya ditandai dengan kelemahan mendadak, demam, sesak nafas, kekejangan, dan keluarnya darah dari lubang-lubang tubuh. Kematian berlangsung dalam beberapa menit sampai beberapa hari. Beberapa penderita dapat mengalami keluron dan mungkin akan mengalami pembengkakan oedematous yang lunak dan panas pada jaringan di bawah kulit, terutama pada bagian bawah perut dan pinggang. Lesi tersebut tidak mengalami suara krepitasi dalam palpasi, karena kuman bacillus antracis tidak membentuk gas. Kadang-kadang juga deitemukan tinja yang berdarah.
Pemeriksaan patologi-anatomi
Karkas hewan penderita radang limpa dengan cepat mengalami pembusukan tanpa terjadinya proses rigor mortis. Darah bersifat sianotik dan biasanya ditemukan pada lubang-lubang dari tubuh. Berbeda dengan kematian yang disebabkan oleh radanga paha, darah jantung tidak mengalami penggumpalan. Kebengkakan oedem serta perdarahan terdapat di dalam jaringan di bawah kulit, serosa dan selaput lendir. Hati, limpa dan kelenjar-kelenjar limfe membengkak secara menyolok. Limpa sapi mengalami kongesti secara akut dan berisi darah yang sianotik dan mengandung kuman dalam jumlah besar. Pada hati dan limpa mungkin ditemukan banyak noda nekrosis yang bersifat akut dan berukuran kecil.
Diagnosis
Penentuan diagnosis didasarkan pada adanya riwayat penyakit radang limpa di suatu kandang peternakan. Kebanyakan kejadian terdapat di dalam suatu kandang yang telah diketahui sering mengalami wabah penyakit. Mungkin saja kejadian yang terakhir telah terjadi beberapa puluh tahun yang lalu dan tidak diketahui oleh pemilik peternakan yang sapinya sedang mengalami penyakit. Karena bedah bangkai pada penderita tidak dibenarkan, kadang-kadang satu daun telinga dipotong dan dikirim kelaboratotium untuk pemeriksaan, atau mungkin dengan pengambilan darah dari vena jugularis dan kemudian dibuat dua buah preparat apus tanpa fiksasi. Dua preparat tersebut dikirimkan dengan dibatasi lidi atau batang korek api yang diletakkan berhadap-hadapan. Sisa darah yang ada dalam tabung injeksi dapat pula dikirimkan ke laboratorium. Bahan pemerikasaan yang dikeringkan lebih disukai, karena apabila pengiriman bahan tersebut terlambat kuman-kuman antrak akan bersaing dengan kuman-kuman pembusuk yang berkembang biak setelah kematian penderita. Apabila dipandang perlu pengiriman sampel darah, dapat dilakukan dengan jalan menempelkan darah pada 1 atau 2 batnag kapur tulis. Dalam beberapa keadaan bangkai hewan-hewan pemamah biak terpaksa dibuka dengan cara bangkai diletakkan pada bagian sebelah kanannya, hingga limpa dapat segera diketahui pada irisan yang pertama pada dinding perut. Sepotong limpa yang disimpan di almari es merupakan bahan pemeriksaan yang bagus, terutama apabila potongan limpa juga disertai dengan preparat apus darah. Setelah sampai di laboratorium preparat darah apus segera diperiksa. Kuman yang bersifat Gram-positif berbentuk batang berukuran besar dan jumlah yang banyak akan segera terlihat. Berbeda dengan clostridia yang berkembang menjadi spora pada hewan-hewan yang hidup, preparat apus yang segar yang berasal dari penderita antrak tidak mempunyai spora. Pada preparat darah apus tersebut biasanya juga banyak terdapat kuman lain seperti clostridia dan kuman-kuman pembusuk lainnya.
Kuman antrak biasanya berbentuk batnag yang terpisah satu dengan yang lain, berukuran besar dan tercampur dengan kuman-kuman yang berbentuk rantai yang terdiri dari 2, 3 atau 4 kuman. Kuman kadang-kadang mempunyai ujung yang memendek dan seluruh rantai dibungkus oleh selubung (kapsul) tunggal. Berbeda dengan pada pengecatan Gram, pada pengecetan Giemsa dan Wright selubung nampak pucat. Kebanyakan kuman Gram positif besar yang terdapat dalam preparat apus adalah kuman klostridia, yang dalam pembiakan rutin tidak akan tumbuh karena tidak adanya suasana aneorob. Pada pembiakan kuman antrak biasanya ditemukan yang cepat tumbuh, dan tidak sangat tergantung pada suasana anaerob. Biakan kuman yang berumur lebih kurang 24 jam dapat digunakan untuk memastikan penyakit. Dalam biakan tersebut koloni antrak bersifat non hemolitik, atau bersifat hemolitik ringan saja, sedangkan kebanyakan kuman yang tergolong dalam genus Bacillus memiliki sifat hemolitik yang kuat. Di bawah sinar lampu, efek “ground glass” dari koloni kuman dan antrak dapat segera dikenali, sedangkan gambaran kepala dilihat dengan bantuan sebuah kaca pembesar . di laboratorium hewan percobaan mencit dan marmot lebih banyak digunakan. Setelah inokulasi hewan-hewan tersebut akan mati dalam waktu sehari atau lebih. Kaena kuman pencemar, misalnya Cl. Septicum, dapat membunuh hewan percobaan kurang dari 24 jam, untuk meyakinkan adanya kuman antrak diperlukan adanya pembiakan kuman yang berasal dari limpa hewan percobaan terserbut. Cara diagnosis penyakit yang mutakhir meliputi “phage testing”. Uji presipitin Ascoli yang banyak digunakan beberapa tahun yang lalu, pada waktu ini sudah jarang dilakukan.
Terapi
Banyak penderita antrak dilapangan ditemukan mati atau dalam keadaan sekarat. Apabila seekor hewan penderita diketahui sakit mungkin pengobatan dengan antibiotik akan membuahkan hasil. Dibanding dengan penderita radang paha, prognosis antrak pada penderita yang non terminal lebih baik. Pengobatan dengan penisilin dan streptomisin, dalam dosis tinggi yang diberikan 2 kali sehari selam beberapa hari, biasanya membuahkan hasil yang bak. Demikian pula obat tetrasiklin telah terbukti efektif untuk mengobati penyakit antrak. Antiserum antrak yang populer pada masa yang lalu, meskipun waktu ini masih dibuat namun harganya mahal; penggunaan antiserum tersebut pada saat ini sudah sangat terbatas.
Pengendalian
Dalam suatu wabah antrak mungkin dibenarkan untuk memindahkan hewan-hewan dari padang penggembalaan ke kandang-kandang yagn terpisah untuk pemeriksaan secara teliti sehari-hari. Riwayat tentang vaksin antrak merupakan riwayat yang panjang, dan meliputi bakteri yang aman, namun kurang memberikan perlindungan, sampai vaksin-vaksin yang efektif namun berbahaya. Vaksin yang sekarang banyak digunakan adalah vaksin spora avirulen dari stern yang memiliki keamanan dan efektivitas tinggi. Vaksin tersebut dipersiapkan dari kuman-kuman antrak yang tidak memiliki selubung. Vaksin tersebut merupakan vaksin hidup, sehingga dengan demikian wabah penyakit tidak boleh diatasi dengan kombinasi antara vaksinasi dengan penggunaan antibiotik seperti yang sering dilakukan terhadap wabah radang paha. Di daerah yang biasa terdapat penyakit radang limpa vaksinasi tahunan perlu dilakukan. Dengan adanya wabah antrak ancaman terhadap manusia juga mengkhawatirkan, sehingga hal ini akan menentukan pola penendalian penyakit tersebut. Berbagai negara mengeluarkan peraturan-peraturan tentang perdagangan air susu, telur dan hasil-hasil ternak lainnya yang berasal dari wilayah yang belum lama menderita penyakit radang limpa.
Dalam pemberantasan penyakit yang sebab kematian hewan belum diketahui dengan segera, telah berlangsung perdagangan kulit yang berasal dari hewan yang mati. Dalam hal demikian penyidikan yang intensif dilakukan dan apabila perlu dilanjutkan dengan penghancuran tempat penyimpanan kulit-kulit tersebut dengan isinya. Bangkai hewan yang menderita antrak kadang-kadang dibakar, atau di tanam dengan gamping. Peraturan-peraturan tentang pengendalian penyakit radang limpa biasa diberikan dlam bentuk peraturan yang mungkin berbeda-beda di antara negara yang bertetangga.
Langganan:
Postingan (Atom)
